smanba.pngBoleh jadi tidak banyak masyarakat Indonesia yang tahu letak Kota Bangil. Bahkan bagi telinga sebagian orang, nama ini pun masih terasa asing.Tidak aneh ketika terbetik kabar bahwa dari kota kecamatan di wilayah Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, ini muncul sekolah berprestasi tingkat nasional, banyak orang terkagum-kagum bercampur rasa tidak percaya. “O, ya?” begitu komentar umum dari berbagai pihak terkait prestasi mengagumkan tersebut.Tidak tanggung-tanggung, prestasi yang diukir para siswa SMA Negeri 1 Bangil adalah peringkat pertama nasional untuk hasil ujian nasional alias UN 2006! Keberhasilan mereka ini jauh di atas capaian UN sejumlah SMA terkenal di Ibu Kota sekalipun, taruhlah seperti SMA Negeri 8 Bukit Duri atau SMA Kristen Penabur Jakarta Barat yang telah melahirkan juara dunia di bidang fisika.Nilai rata-rata yang diraih oleh 133 siswa Jurusan IPA dari SMA Negeri 1 Bangil yang ikut UN 2006—untuk tiga mata pelajaran yang diujikan—nyaris sempurna. Hanya Bahasa Indonesia yang nilai rata-ratanya 9,46. Adapun Bahasa Inggris dan Matematika masing-masing 9,80 dan 9,71.Para siswa SMA Negeri 1 Bangil juga berada di peringkat pertama nasional hasil UN 2006 untuk jurusan IPS dan Bahasa. Nilai rata-rata yang mereka raih pun tidak ada yang di bawah angka 9, bahkan banyak di antaranya yang mendapat nilai sempurna alias 10!

Jauh dari keramaian

“Kalau aku ke kota (Surabaya), orang bertanya (kepada) saya, dari SMA mana? Ketika dijawab dari SMA Negeri 1 Bangil, biasanya orang akan kembali bertanya, di mana?” ujar Zainuddin, salah satu alumnus SMA Negeri 1 Bangil yang saat ini kuliah di Program Studi Bahasa Jepang, Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

Pengalaman Zainuddin ikut memberi gambaran, orang-orang di Surabaya saja ternyata ada yang tak mengenal kiprah SMA Negeri 1 Bangil. Padahal, kota kecil yang terkenal dengan para perajin bordir dan kehidupan masyarakatnya yang religius itu hanya berjarak tempuh sekitar 1-2 jam dari Surabaya bila menggunakan kendaraan umum.

Akan tetapi, apa pun kata orang tentang almamaternya, Zainuddin tetap bangga pada berbagai prestasi yang telah diukir sekolahnya tersebut. “Banyak yang tidak kenal dengan Bangil dan letaknya pun jauh dari keramaian. Tetapi, dengan letak geografis yang seperti itu, kami ternyata bisa berprestasi. Sebagai siswa, saya pasti tidak bicara lagi dari Pasuruan, tetapi lebih bangga kalau bilang dari Bangil,” ujarnya.

Sebut saja prestasi mereka di bidang keterampilan berbahasa Jepang. SMA ini ternyata mampu bersaing, bahkan tak jarang mengalahkan sejumlah SMA terkenal dari Surabaya dan Jakarta sekalipun yang mempunyai program serupa. Tahun lalu, misalnya, salah satu siswi dari sekolah ini menjadi juara II lomba pidato dalam bahasa Jepang, yang diadakan Japan Foundation di Jakarta.

“Kami ini sekolah kecamatan. Akan tetapi, dengan adanya anak-anak yang diterima di berbagai perguruan tinggi negeri (PTN), bahkan ada yang berhasil bersekolah di Amerika dalam program pertukaran pelajar, ikut memotivasi rasa percaya diri. Kalau anak-anak sudah percaya diri, kami dari kecamatan tentunya juga tidak mau kalah dengan Surabaya,” kata Muslih, Wakil Kepala (Bidang Kurikulum) SMA Negeri 1 Bangil.

Banyak yang tak kuliah

Bila hasil UN benar-benar mencerminkan prestasi anak yang sesungguhnya, dan peringkat pertama yang diraih SMA Negeri 1 Bangil bisa dijadikan tolok ukur mutu pendidikan nasional, negeri ini ternyata kehilangan banyak tunas terbaiknya. Sebab, tahun lalu, tidak semua lulusan SMA Negeri 1 Bangil—yang telah mengantarkan sekolah ini menjadi yang terbaik di tingkat nasional dalam pencapaian hasil UN—melanjutkan ke perguruan tinggi.

Alasan utama memang terdengar klasik: keterbatasan kemampuan ekonomi. Masalahnya, melihat capaian prestasi mengagumkan yang telah mereka tunjukkan lewat seleksi UN 2006, tidak adakah orang berpunya atau lembaga sosial yang tergerak untuk memupuk tunas-tunas bangsa itu?

Menurut catatan, pada tahun 2006 hanya 120 lulusan SMA Negeri 1 Bangil yang mendaftar ikut seleksi penerimaan mahasiswa baru (SPMB) ke PTN. Di luar itu, sekitar 40 orang diterima di beberapa PTN melalui semacam jalur prestasi.

Padahal, jumlah peserta UN 2006 dari SMA ini tercatat 279 orang. Artinya, ada lebih dari sepertiga lulusan sekolah berprestasi ini yang sangat boleh jadi masuk ke pasar kerja alias tidak mendapat kesempatan mengasah kemampuan intelektual mereka di lembaga pendidikan yang lebih tinggi.

Hanya saja, dari catatan yang ada, ternyata di antara siswa berprestasi—tentu dengan mengusung nilai rata-rata hasil UN nyaris sempurna tadi—yang ikut SPMB, belakangan diketahui tidak semua bisa lolos seleksi. Sekitar 25 orang (20 persen) tak mampu menerobos tembok soal SPMB, yang memang berbeda tujuan pengukurannya daripada soal-soal UN.

Boleh jadi, kalau kita masih percaya pada hasil UN sebagai cermin prestasi pendidikan nasional, kegagalan itu tak lebih kesialan semata. Ya, boleh jadi!

2 Responses to “.:Dari Bangil untuk Indonesia”


  1. 1 Dwi Yono Januari 7, 2008 pukul 6:05 pm

    Saya alumni SMU N 1 Bangil tahun 2003, semangat SMANBA boleh maju dalam prestasi, tapi miskin dalam tingkat wawasan pengetahuan dan pergaulan, karena wawasan berfikirnya atau mindset-nya dibuat untuk belajar, bukan di set untuk berkreatifitas, mau berbicara dengan fakta dan data.
    banyak alumni SMANBA yg pandai tapi kurang dalam menguasai dalam berorganisasi. model seperti ini akan membuat kecil pemikiran SMANBA sendiri. Adanya kelas internasional bukan berarti kebanggaan utama bagi SMANBA melainkan suatu ujian dalam mengembangkan pola pikir siswanya, bentuk-bentuk kapitalisasi pendidikan muncul pada sekolah berbasis internasional.

    SPP dibayarkannya pun berbeda, orang tua cenderung bangga dengan anaknya masuk kelas internasional, tapi tidak memikirkan cara berfikir anak-anaknya dalam mengembangkan “mimpi” dan keberanian dalam berorasi menyampaikan aspirasi.

    Pola pikir dari SMANBA harus lebih kritis, tapi yang masih dalam koridor etika orang timur, kalau saya boleh katakan, “boleh kritis asal jangan anarkhis, boleh idealis asal jangan individualis. Penalaran dan etika harus diajarkan di SMANBA, sehingga bisa menjadikan lulusan yang qualified, tidak perlu sekolah berlabel islam tapi cukup menghasilkan pelajar yang beretika (bukan berarti tidak beretika lo…) karena dengan kemajuan teknologi saat ini banyak siswa yang mulai “membelot” keluar dari jalur, inilah yang perlu ditanamnkan bagi siswa SMANBA.

    Kritik buat alumninya, harusnya ada wadah yang benar-benar nyata dan dapat memberikan sumbangsih bagi siswa/adek kelas juga sekolahnya yang telah mendidik hingga menjadi orang yan berguna.

    mari bersama benahi SMANBA lebih baik lagi.

    Jakarta, 07 Janurai 2007

    Dwi Yono
    081555728198/08175019858
    dwiyono@brawijaya.ac.id
    dwi_yono@hotmail.com

  2. 2 cyril Maret 18, 2008 pukul 5:41 pm

    Salam kenal dari lulusan a2-2 1994.

    di blog saya banyak ebook nya lho….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Juli 2017
S S R K J S M
« Des    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Top Clicks

  • Tidak ada

%d blogger menyukai ini: